Cerita Senja

Cerita Senja


Cerita Senja

Aku menunggu seseorang di penghujung senja dengan semburat keemasan. Sesekali aku melihat kea rah pelabuhan.membayangkan kedatangannya dengan berjuta cerita anak kota, bangunan-bangunan tinggi serta pabrik-pabrik yang mengepulkan asap melalui cerobong raksasanya. Sepertinya menyenangkan.

            Ia pernah mengatakan sesuatu sebelum keberangkatannya, diujung dermaga, saat peluit kapal memekan telinga.”panggil aku fajar senja, karena fajar selalu membawamu kepada hari-hari yang cerah. Panggil aku senja, persis seperti namamu. Karena senja akan mengantarkanmu pada tenangnya malam. Panggil aku ombak, karena ombak selalu datang membawa deburannya.” Ucapnya lalu beranjak masuk kedalam kapal. Peluit panjang terdengar, menandakan kapal akan segera berangkat. Ia pergi, kapalnya mulai menjauh, hanya kepulan asap dari kejauhan yang terlihat, menandakan bahwa kapal yang ia tumpangi masih berlayar dengan gagah.

            Ia seorang pemuda berprestasi yang menurutku telah mengharumkan nama sekolah dengan  pencapaiannya. Ia mendapat beasiswa untuk  melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di kota. Suatu hari aku pernah bertanya tentang cita-cita yang ingin dia gapai. Ia tersenyum lalu menjawab dengan pasti, bahwa ia ingin menjadi seorang guru. Ia ingin mengembangkan sekolah-sekolah di pulau. Bukan hanya di pulai ini, tapi juga di pulau-pulau tetangga. Dia percaya bahwa anak pulau memiliki banyak ide kreatif yang terpendam dalam diri mereka. Ia ingin membantu anak-anak agar mereka dapat mengembangkan bakat terpendam tersebut. Dia memang hebat. Juang namanya. Bukan fajar, mentari, senja ataupun ombak. Juang. Nama yang indah bukan?.

            Kurang lebih lima tahun sudah, dia pergi. Kita tidak pernah berkirim  surat, kabarnyapun aku tidak tahu, apa yang sedang ia lakukan, bagaimana keadaannya, entahlah. Tapi aku percaya, dia pasti akan melakukan hal terbaik di kota. Karena aku mengenalnya melebihi diriku sendiri. Selama kepergiannya, aku hanya mengharapkan satu hal, tidak banyak,  aku ingin dia kembali. Jika aku diizinkan berharap lebih, aku hanya ingin dia kembali untukku. Satu bulan yang lalu aku mendapatkan titipan dari kota, sebuah amplop, surat dari Juang. Aku membukanya dengan perlahan, jantungku tidak bisa tenang, seakan-akan ingin keluar dari rongganya, ternyata dia masih mengingatku.

            Matahari mulai tenggelam diujung barat, hari ini hari senin, hari dimana kapal dari kota datang ke pulau ini. Aku masih menunggunya, kepulan asap mulai terlihat dari kejauhan, aku beranjak, berlari keujung dermaga. Kebiasaan baruku setelah menerima surat dari Juang, berharap dia ada dalam kapal untuk kembali kerumah. Peluit kapal terdengar, menyuarakan kebahagiaan, itu yang selalu aku rasakan saat kapal dari kota tiba selama satu bulan terakhir. Orang-orang mulai berhamburan, pandanganku tak             Pelabuhan mulai sepi, sepertinya dia tidak datang hari ini, aku tersenyum meyakinkan diri, jika tidak hari ini, mungkin minggu depan. Ucapku dalam hati, lalu aku pergi meninggalkan dermaga. Aku melangkahkan kaki dengan berat dan senyum   yang kucoba tetap mereka, hingga suara seseorang memenuhi gendang telingaku. “Senja aku pulang.” Suara asing, seasing kaset lama yang diputar kembali, aku mengenalnya.  Aku mencari asal suara tersebut, kulihat seorang lelaki berkemeja biru tua tersenyum ke arahku, wajahnya secerah fajar, semenawan senja, dan setenang deburan ombak sore ini, dia datang. Juang datang.

luput dari pintu keluar kapal, mencari wajah yang sangat ku rindukan.  Dia datang atau tidak, aku tidak akan merasa kecewa, karena aku selalu siap menunggunya di garuda terdepan.