HOAX Kata Ibu Nyai

HOAX Kata Ibu Nyai


MENGENAL FLAMING PADA REMAJA: PERSPEKTIF ISLAM

Oleh: Nyai Qurrota A yun

Penemuan yang dapat dikatakana paling fenomenal dan mengena. Pada abad ini mungkin dapat di sematkan kepada telepon seluler (ponsel).80 persen remaja menggunakan ponsel mereka, membuat teknologi menjadi hal yang paling popular . Tujuan untuk memperoleh kemudahan hidup itu pula yang memaksa dirinya memutuskan menggunakan ponsel dalam berbagai merk hanya untuk menemani hidup. Jika ponsel tidak ada di genggaman, maka akan terasa hampa. 

Di sisi yang berbeda, teknologi informasi berkembang sangat cepat berkat penemuan jaringan  internet. Media sosial seakan menjadi ruang bagi seseorang untuk berekspresi. Terdapat banyak nuansa-nuansa psikologis pada Media Sosial. Misalnya saja emoticon mewakili ekspresi wajah dari si penulis, tulisan yang menggunakan huruf kapital semua menandakan bahwa penulis sedang marah dan menjerit. Dan semua itu bisa menjadi cerminan ekspresi kita di dunia yang kita pikir terbatas dengan sebuah ekspresi wajah dan nada bicara dari si penulis. Jadi apa yang kita tulis adalah apa yang kitapikirkan.

Fenomena tersebut juga tak luput mengenai para remaja. Dari 80 persen remaja yang menggunakan ponsel dan internet secaraaktif, sebagian dari mereka terpicu melakukan cyber bullying, Baik secara sadar maupuntidak. Cyberbullyng sendiri termasuk kedalam bagian kenakalan remaja. Di sisi yang berbeda, Remaja cenderung melakukan kenakalan karena mereka belum bersosialisasi sepenuhnya dan hanya sebagian mengasosiasikan diri mereka dengan norma konvensional. Remaja yang melakukan kenakalan karena mereka tidak mengindahkan norma konvensional, serupa dengan individu yang belum mendapat kode etik konvensional di dunia maya.Remaja yang melakukan penyimpangan dalam berperilaku online merasa lebih bebas karena tidak ada standar perilaku yang jelas dalam berinteraksi secara online.

 Salah satu masalah perilaku ini disebut dengan flaming.Banyak ahli yang mendefinisikan flaming dengan  pengertian yang berbeda. Namun sejatinya memiliki maksud yang serupasaja.Dari beberapa definisidapat disimpulkan bahwa flaming adalah sebuah pesan yang ditujukan untuk seseorang yang tidak disukai, yang ditulis menggunakan bahasa yang tidak pantas seperti menghina, mencaci-maki, kata-kata kotor, bahkan kata-kata yang tak senonohdalamduniacyber.

Maraknya perilaku flaming lebih disebabkan oleh dikarenakan kurangnya isyarat sosial yang dapat di tangkap secara langsung di lingkungan teknolog iinformasi. Ketidak mampuan untuk melihat ekspresi di wajah pengirim pesan atau mendengar suaranya saat membaca pesan yang diketik, dapat mempengaruhi persepsi orang lain. Di sisilain, ketidakmampuan untuk melihat ekspresi di wajah pengirim dan penerima pesan tersebut di manfaatkan oleh sebagian remaja untuk mengutarakan komentar flaming. Komentar flaming adalah semacam komentar yang ekstrim, dimana komentar tersebut tidak mengandung umpan balik yang membangun atau gagasan yang baik, namun flaming ini banyak mengandung komentar sumpah serapah, kebencian, dan kalimat-kalimat negatif

Selain kata-kata, yang biasanyaberupa kata sifat, bentukperilaku lain yang digunakan untuk menggambarkan flaming, terdapat visual tertentu seperti atribut tipografi dalam pesan juga bisa mengarahkan penerima pesan untuk merasakan pesan sebagai pesan yang mengandung unsure flaming. Misalnya saja penggunaan huruf kapital dalamkeseluruhanpesan -dalam konteks apapun- mencatat bahwa hal itu sama dengan ‘menjerit’. Sedangkanahli lain juga menambahkan penggunaan huruf tebal dan besar ditafsiri sebagai keagresifan. Dan warna merah pada huruf bisa dianggap sebagai sumpah serapah’. Aspek visual lainnya dari pesan-pesan dalam dunia maya adalah penggunaan emoticon (wajah tersenyum J, wajah sedih L, atau simbol lainnya) dimaksudkan untuk menirukan isyarat emosional atau isyarat wajah yang tidak tersedia dalam teks pesan. Akronim seperti ‘LOL’ (Laughing Out Loud) atau J/K (Just Kidding), juga bisa memiliki efek pada bagaimana receiver (penerima pesan) merasakan pesan yang di sampaikan.

Islam memiliki perspektifnya sendiri terhadap perilaku Flamingtersebut. Dalam kitab Taishirul Kholaq,  fenomena flaming dipersamakan dengan ketika kita menyebutkan sifat yang tidak disenangi oleh saudara kita meskipun di depannya. Misalnya saja kita memanggil teman kita dengan sifat sifat tercela seperti “Eh, sikulit hitam!!!” atau “Hai si bakhil!!!”meskipun memang mereka memiliki sifat tersebut.

Adapun sebab-sebabnya ada delapan, diantaranya:

  1. Karena perasaan hasud.
  2. Karena keinginan untuk melampiaskan kebencian.
  3. Karena ingin menonjol.
  4. Karena ingin menyudutkan seseorang.
  5. Karena ingin membebaskan diri.
  6. Karena ingin mengambil muka dengan kawan-kawannya.
  7. Karena ingin bergurau.
  8. Karena ingin memperolok seseorang.

Meskipun fenomena flaming ini adalah masalah yang baru muncul pada puncak perkembangan teknologi informasi, namun Islam telah terlebih dahulu memperingatkan agar umat muslim menjauhi perbuatan ini.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, yang mana Allah terlebih dahulu melarangnya dalam surat Al-Hujurat ayat 11:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ هَمَّ قَوۡمٌ أَن يَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ فَكَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ  ١١

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat: 11).

Kalimat talmizu berasal dari akar kata lamaza-yalmizu-lamzan yang berati memberi isyarat disertai bisik-bisik dengan maksud mencela. Ejekan ini biasanya langsung ditujukan kepada seseorang yang diejek, baik dengan isyarat mata, bibir, kepala, tangan, atau kata-kata yang dipahami sebagai ejekan.

Rasulullah pernah mengungkit masalah tentang mencaci-maki, yang mana beliau melarang umat muslim untuk tidak memperolok-olok saudaranya, yang dikutip dari kitab Washiyatul Mustofa dalam bab فَصْلٌ فِى حِفْظِ اللِّسَانِ , yang mana Rasulullah bersabda sebagai berikut:

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : لَا تُعَيِّرْ اَحَدًا بِمَا فِيْهِ فَمَا مِنْ لَحْمٍ اِلَّا وَفِيْهِ عَظْمٌ وَلَاكَفَّارَةَ لِلْغِيْبَةِ حَتَّى يَسْتَحِلَّهُ اَوْ يَسْتَغْفِرَلَهُ

Artinya: “Nabi bersabda: janganlah kamu mencela seseorang, sebab sesuatu yang ada pada orang itu. Karena setiap daging itu pasti ada tulangnya (tidak ada orang yang sempurna tanpa cacat). Dan ghibah itu tidak ada kafaratnya, kecuali meminta ridha dan maaf kepada yang bersangkutan” (Asy-Sya’roni, 2012: 53).

Hal ini mengingatkan kaum mukminin supaya jangan ada suatu kaum yang mengolok-olok kaum lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olok itu pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-oloknya.