Inilah Sosok Almarhum Rusli Yang Membuat Takjub Dosen Pembimbing

Inilah Sosok Almarhum Rusli Yang Membuat Takjub Dosen Pembimbing


SAYYIDI - Selamat jalan mas Rusli (Almarhum bernama lengkap Ahmad Rusli al-Jauhari), terlalu cepat rasanya engkau meninggalkan kami, terasa kurang kami berjuang bersamamu, kami benar-benar merasa kehilangan. Di tengah proses penyelesaian tugas akhir skripsi, Allah SWT telah memanggilmu. Kecelakaan tabrak lari yang telah menimpamu di Jalan Lintas Timur (JLT) pada hari Rabu 26 juni 2019, tepat pukul 08.00 WIB. Insya Allah, kami meyakini engkau meninggal dalam keadaan syahid. Di saat Allah memanggilmu melalui perantara kecelakaan itu terlihat sangat mudah, tidak terlihat rasa sakit diwajahmu, semoga ini sebagai tanda kesholihan dan syahidmu.

Tanda-tanda keshalihan dan syahidmu nampak sejak menjadi santri di Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Wonorejo Kedungjajang Lumajang, di mata teman-temanmu engkau termasuk orang yang shalih, baik, pendiam, selalu senyum, tidak banyak ulah dan tingkah, begitu pula di mata para Guru dan Dosen engkau dicatat sebagai orang yang baik sekali. Sebagai orang yang hafid alQuran engkau tidak menyombongkan diri, tidak menunjukkan sikap sok hebat dibanding yang lain, sopan etikanya, santun bicaranya, penuh kesederhanaan dan sangat bersahaja. Sungguh saya peribadi sebagai manusia yang diberi tugas membimbing skripsinya benar-benar terpukul dan tidak percaya saat mendengar kabar melalui pesan (WA) sekitar jam 09.28 WIB. Di Group Dosen IAIS, kenapa begitu cepat? Dan sangat disayangkan, saya tidak dapat menghadiri proses pemakaman, karena keberadaan saya pada waktu itu sedang menjalankan tugas di luar kota. Namun demikian, lantunan surah Al-Fatihah beserta Doa yang kupanjatkan turut mengiringi perjalananmu menuju alam barzah.

Rekam jejak pencapaian nilai akademik dengan predikat mumtaz, sejak dari Pesantren hingga engkau menjadi Guru sebelum S1. Hal itu berawal dari tugas kampus, yakni Praktik Pengalaman Lapangan (PPL II) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lumajang. Oleh karena ilmu dan kesalihanmu, engkau diangkat sebagai Guru di sana. Ini menunjukkan jika engkau adalah orang yang baik di mata semua kalangan, maaf mas Rusli jika terdapat kesalahan perilaku, sikap, dan ucapan selama bimbingan.

Masih hangat di telingaku, kata-kata terakhirmu saat mengatakan “Ustad saya pingin segera tuntas dan ikut ujian gelombang II maaf saya tidak bisa ikut ujian gelombang I sebab saya masih repot di MAN” kalimat itu, ucapan terahir pada hari Sabtu 22 Juni 2019 di ruang kantor SMK Syarifuddin disaksikan oleh teman-teman TU SMK waktu itu, kurang lebih jam 13.30 lalu ia pamit tashofaha (berjabatan tangan) sambil membungkukkan badan dan mengatakan “doakan ustad” (inikah tanda-tandanya? Wallahuaklam), lalu mundur dan mengucapkan salam.

Ya Allah, jadikanlah almarhum sebagai bagian dari orang-orang shalih dan kelak bisa berkumpul di Surga-Mu amin. Kesederhanaan dan kesopanan almarhum sangat sesuai dengan judul skripsi yang diangkatnya, ia mengambil judul “Etika hatmil alQuran dalam perspektif Imam Zakaria Yahya bin Syarof dalam kitab al Tibyan fi hammalah alQuran”. saat ditanya tentang fokus kajiannya ia menjawab fokus kajiannya pada etika membawa alQuran, etika membaca alQuran, dan etika menghafal alQuran, ustad! Kini judul ini hanyalah tinggal judul, insyaallah masih banyak mahasiswa yang hafid alQuran di IAIS, saya berharap ada yang bisa melanjutkannya sebagaimana Jalaluddin Abdurrahman abi Bakr asyyuthi melanjutkan karya kitab tafsir Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahally yang wafat sebelum menyelesaikannya, sehingga kitab tafsir ini diberi nama “Tafsir Jalalen”.

Selamat jalan mas Rusli semoga husnul khotimah Amin ya rabbal alamin.