Tips Ini Buat Mondok Jadi Menyenangkan

Tips Ini Buat Mondok Jadi Menyenangkan


Pesantren? Banyak orang merasa ogah mendengar nama tempat tersebut. Jauh dari orang tua, terlalu banyak aturan, tidak bisa kemana-mana dan sebagainya pun bisa jadi boomerang ntuk membuat tidak betah di pesantren bahkan menolak pesantren. Padahal semua pemikiran itu hanyalah ketakutan yang semata-mata mereka ciptakan sendiri. Pesantren adalah majlis ta’lim yang menyuguhkan keramahan lewat adab sopan santun, saling menghargai tanggung jawab dan hak orang lain lewat strata kepengurusan di dalamnya, bahkan menjadi tempat yang bersahaja, tercermin ddari kondisi santrinya yang tetap rukun hidup bersama. Lalu masih tidak betah? Sebenarnya ada beberapa tips sih untuk mengatasi hal itu. Coba saja baca beberapa ips berikut : 

1. Luruskan Niat

Nah, ini yang kudu kita luruskan. Yaitu niat. Setiap melakukan sesuatu pasti yang terbetik pertama kali dalam pikiran kita adalah niat. Jadi untuk apa kita masuk pesantren? Apa yang kita cari di sana? Tentu yang kita cari di pesantren adalah ilmu. Jadi jangan salah niat, kita hidup di pesantren untuk menimba ilmu Allah dan untuk mengharap ridha-Nya pula. Bukan untuk mencari yang lainnya.

Mengenai niat ini penah disinggung dalam hadist Rasulullah yang berbunyi: “Barang siapa yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” ( HR. Bukhari)

Nah, sekarang niat kita menuntut ilmu itu sudah lurus nggak? Ayo tanyakan pada hati masing-masing. Jangan-jangan selama ini kita sekolah hanya karena paksaan orang tua atau hanya untuk mendapatkan selembar ijazah saja? Wah, jangan sampai, Fren. Kita harus ikhlas belajar karena Allah bukan karena yang lainnya.

2. Filter Teman

Ini juga penting. Di pesantren kita bertemu banyak orang dengan segala warna-warni karakteristik mereka. Seperti warna, ada  gelap, ada cerah. Maka perlu bagi santri untuk memilah milih berteman, agar nanti tidak terciprat warna gelapnya.

Syekh Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta’limul Mutallim menjelaskan bahwa salah satu teman yang harus kita cari adalah yang Wara’ atau orang yang selalu berusaha menghidar dari hal-hal yang berbau dosa. Jadi kalau teman kita baik maka kita akan kecipratan kebaikannya. Tapi sebaliknya kalau kita berteman dengan “wong ora genah”, yang suka urak-urakan misalnya, maka kita akan terkena imbas dari ketidakberesan mereka. Intinya kita harus mencari teman yang berakhlakul karimah.

Selain yang Wara’ kita juga harus mencari teman yang cerdas. Tapi bukan berarti kita harus ninggalin teman kita yang bodoh. Tetap kita berusaha mengajak mereka atau membimbing mereka supaya tidak pernah bermalas-malasan dalam belajar.

Karena banyak sekali para santri yang perilakunya tidak baik hanya karena mereka salah gaul. Mereka masih terpengaruh oleh definisi “gaul” anak-anak muda jaman sekarang. Sehingga apa yang terjadi? Mereka yang sebelumnya di pesantren adem ayem ketika pulang ke rumah jadi brutal. Naudzubillah!. Nggak mau kan kayak gitu?

 

3. Dekati Guru atau Ustadz

Bergaul di pesantren tentu bukan hanya bergaul dengan para santri saja. Dengan guru atau Ustadz pun kita juga harus “dekat”. Maksudnya ketika kita mengalami kesulitan-kesulitan dalam pelajaran kita bisa tanya langsung kepada mereka. Begitu juga ketika kita ada masalah misalnya. Kita coba komunikasikan kepada guru dengan harapan mereka bisa mencarikan solusi dari masalah yang kita hadapi. Dengan begitu hubungan antara guru dan santri seperti hubungan orang tua dengan anak. Tapi guru tetap guru, seorang santri tetap harus beretika semestinya antara yang mengajar dan yang diajar.

 

6. Patuhi Disiplin Pesantren

Sekali lagi disiplin yang ditegakkan di pesantren semata-mata untuk kepentingan para santrinya itu sendiri. Kita nggak bisa membayangkan kalau seandainya ada sebuah pesantren yang tidak ada disiplinnya. Misalkan membolehkan santrinya merokok, memanjangkan rambut, keluar kompleks pesantren tanpa ijin dan sebagainya. Tentu santrinya bakal amburadul karena akan berbuat seenak hatinya sendiri.

Memang, sebagai manusia kita nggak bakal lepas dari khilaf dan lupa. Sewaktu-waktu pasti kita akan teledor dan tidak menutup kemungkinan akan melanggar salah satu disiplin pesantren. Rutinitas yang bagi sebagian santri sangat membosankan itu akan menyebabkan mereka lalai dan dengan sengaja melanggar disiplin. Misalkan kita tidak mengikuti shalat jamaah atau terlambat masuk kelas. Itu salah satu bentuk pelanggaran ringan yang biasa dilanggar oleh sebagian santri.

Tapi sebisa mungkin kita berusaha untuk tidak melanggar meskipun itu pelanggaran ringan. Karena kalau kita sudah terbiasa dengan melanggar disiplin maka kita akan terbiasa melanggar disiplin yang lainnya. Naudzubillah. Biasakanlah mematuhi peraturan pesantren, dengan begitu lambat laun kita akan merasa familiar dengan peraturan-peraturan itu, sehingga tidak ada lagi prasaan tertekan yang sejatinya salah satu penyebab seorang santri tidak betah di pondok. Ya…berteman dengan peraturan.

 

Gimana tips-tipsnya? Coba aja deh insyaallah ampuh! Namun dari segala tips di atas jangan lupakan kata IKHLAS , karena akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka saja mengikuti tips-tips ini itu kalau tanpa disertai rasa ikhlas. Sekian selamat mencoba